Doraemon: Nobita and the Kingdom of Clouds: Perbedaan antara revisi
Created page with "'''''Doraemon: Nobita and the Kingdom of Clouds''''' (ドラえもん のび太と雲の王国 ''Doraemon: Nobita to Kumo no Okoku'') adalah bagian ketiga belas dari Film Doraemon. Setelah membangun kerajaan mereka sendiri di awan, Nobita dan teman-temannya menemukan dunia tempat hewan-hewan yang punah dan manusia langit yang maju berkembang pesat. Doraemon memulai petualangan ekologisnya untuk menyelamatkan Bumi dari ancaman mengerikan bersama..." |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Doraemon: Nobita and the Kingdom of Clouds''' (ドラえもん のび太と雲の王国, Doraemon: Nobita to Kumo no Ōkoku) adalah sebuah film animasi Jepang tahun 1992 yang disutradarai oleh Tsutomu Shibayama. Film ini merupakan seri ke-13 dari waralaba Doraemon dan didasarkan pada volume ke-12 dari manga Doraemon Long Stories dengan judul yang sama. Film ini pertama kali ditayangkan di Jepang pada tanggal 7 Maret 1992 dan didistribusikan oleh Toho. Dengan durasi 98 menit, film ini mengusung tema lingkungan hidup yang kuat, menyoroti dampak negatif aktivitas manusia terhadap alam. Ceritanya mengikuti Nobita dan teman-temannya yang membangun kerajaan di atas awan, hanya untuk menemukan sebuah peradaban misterius yang berencana menyelamatkan Bumi dengan cara yang ekstrem. Film ini meraup pendapatan kotor sebesar ¥1,68 miliar (sekitar US$26,2 juta) dan menjadi salah satu film Doraemon dengan pesan moral yang paling mendalam. | |||
==Sinopsis== | |||
Cerita dimulai dengan sebuah kapal luar angkasa asing yang memperingatkan seorang lelaki tua beserta putra dan cucunya untuk segera meninggalkan pulau tempat mereka tinggal. Peringatan itu diabaikan, dan malam harinya, banjir besar menghancurkan hampir seluruh pulau tersebut. Sementara itu, di kota tempat Nobita tinggal, ia bertanya kepada gurunya apakah surga benar-benar ada di atas awan. Pertanyaan polos ini malah ditertawakan oleh guru dan teman-temannya, termasuk Shizuka. Merasa terhina, Nobita bersikeras mencari kebenaran tentang surga. Doraemon, yang awalnya ragu, akhirnya setuju untuk membantu Nobita membangun surga versi mereka sendiri. | |||
Dengan menggunakan alat-alat canggih seperti "Gas Pemadat Awan" dan "Robot-robot Kecil", Nobita dan Doraemon mulai menciptakan sebuah kerajaan di atas gumpalan awan raksasa yang tersembunyi. Mereka kemudian mengundang Giant, Suneo, dan Shizuka untuk ikut serta. Suneo, dengan modal keuangannya, menjadi pemilik saham terbesar, memungkinkan pembangunan berbagai fasilitas mewah di kerajaan awan tersebut, termasuk kastil yang megah. Nobita diberi mahkota khusus oleh Doraemon yang membuat semua penghuni kerajaan awannya harus menaatinya, serta selendang terbang untuk berkeliling. Selama beberapa waktu, mereka menikmati liburan impian di kerajaan awan pribadi mereka. Namun, kegembiraan itu terusik ketika berita tentang serangkaian peristiwa aneh mulai bermunculan di seluruh dunia: sebidang tanah hutan di Afrika lenyap setelah diselimuti awan tebal, demikian pula dengan sekelompok pemburu liar. | |||
== | Suatu hari, kerajaan awan mereka bertabrakan dengan sebuah gunung. Saat menyelidiki tabrakan itu, Nobita dan Doraemon menemukan seorang anak laki-laki pingsan yang menunggangi seekor makhluk purba mirip Glyptodon, hewan yang telah punah 11.000 tahun lalu. Setelah menyembuhkan anak itu, mereka mengetahui bahwa ia berasal dari dunia lain di atas awan. Atas petunjuk anak itu, mereka memasuki dunia tersebut dan menemukan sebuah peradaban maju yang dihuni oleh para "Manusia Awan" (Sky People). Dunia ini memiliki teknologi luar biasa dan menjadi tempat perlindungan bagi berbagai hewan purba yang telah punah di Bumi. Namun, Nobita dan teman-temannya segera menyadari bahwa para penghuni awan ini menyimpan rahasia kelam: sebuah rencana bernama "Proyek Nuh" (Project Noah). Karena prihatin dengan kerusakan lingkungan yang terus-menerus dilakukan oleh manusia di Bumi, para Manusia Awan berencana untuk memicu hujan badai raksasa yang akan membanjiri seluruh dunia, memusnahkan peradaban manusia, dan mengembalikan Bumi ke keadaannya yang alami. | ||
Nobita dan teman-temannya ditangkap dan dipenjara. Sementara itu, Doraemon, yang berusaha menyelamatkan mereka, tertembak oleh senjata energi para Manusia Awan dan mengalami kerusakan parah yang membuatnya tidak berfungsi. Dalam keadaan darurat, Nobita menggunakan "Pintu ke Mana Saja" (Anywhere Door) untuk melarikan diri, tetapi secara tidak sengaja mereka melompat 10 hari ke masa depan. Di masa depan itu, mereka menyaksikan bumi dalam keadaan porak-poranda akibat banjir besar. Kengerian itu memacu mereka untuk kembali ke masa sekarang dan menghentikan Proyek Nuh. Di saat-saat terakhir, dengan bantuan para hewan yang pernah ditolong Doraemon di episode sebelumnya, serta kesaksian dari anak yang mereka tolong sebelumnya, Nobita berhasil membujuk para Manusia Awan bahwa masih ada harapan untuk manusia. Film berakhir dengan pembatalan Proyek Nuh dan para Manusia Awan yang mulai membuka diri untuk bekerja sama dengan manusia Bumi menyelamatkan lingkungan. | |||
[[ | |||
[[ | Karakter | ||
Selain karakter utama seperti Nobita Nobi, Doraemon, Shizuka Minamoto, Takeshi "Giant" Goda, dan Suneo Honekawa, film ini memperkenalkan sejumlah karakter eksklusif. Salah satunya adalah Paruparu, seorang kurator wanita di cagar alam hewan purba milik Manusia Awan. Meskipun awalnya ikut mendukung Proyek Nuh, ia mulai meragukan rencana tersebut setelah berinteraksi dengan Nobita dan mengembangkan perasaan iba kepada mereka. Sosok antagonis utama dipegang oleh Gurio, seorang kurator pria yang selalu mengenakan topeng misterius. Ia sangat membenci manusia Bumi dan menjadi pendukung paling fanatik dari Proyek Nuh. Selain itu, terdapat pula seorang Presiden yang memimpin para Manusia Awan, yang meskipun bukan tokoh jahat, ia sangat dipengaruhi oleh laporan dan kecurigaan bahwa manusia Bumi tidak akan pernah berubah. Film ini juga istimewa karena menampilkan banyak "karakter tamu" dari episode atau film sebelumnya, seperti Hoi (suku kerdil dari "Donjara Village"), Kibō (sebuah pohon yang pernah dirawat Nobita), dan beberapa burung Dodo, yang semuanya memberikan kesaksian bahwa ada manusia baik di Bumi. | |||
==Produksi dan Tema== | |||
Sama seperti film-film Doraemon lainnya pada era 1990-an, produksi film ini melibatkan Shin-Ei Animation bekerja sama dengan TV Asahi dan Shogakukan. Sutradara Tsutomu Shibayama, yang juga menyutradarai beberapa film Doraemon lainnya, bertanggung jawab mengadaptasi cerita panjang karya Fujiko F. Fujio ke dalam format layar lebar. Fujiko F. Fujio sendiri masih terlibat langsung sebagai pengawas dan penulis skenario. Musik pengiringnya digubah oleh komposer veteran Shunsuke Kikuchi, yang telah lama menjadi andalan seri Doraemon. Lagu tema penutup film ini berjudul "Kumo ga Yuku no wa" yang dinyanyikan oleh Tetsuya Takeda. Film ini merupakan salah satu film Doraemon yang paling gamblang dalam menyampaikan kritik terhadap perusakan lingkungan. Tema "Green Aesop" (pesan moral tentang lingkungan) sangat kental, di mana para Manusia Awan digambarkan frustrasi dengan ulah manusia yang membakar hutan, memburu hewan, dan mencemari laut. Proyek Nuh dalam cerita ini merupakan metafora yang jelas terhadap peringatan akan hukuman alam bagi manusia yang serakah. | |||
==Perilisan dan Penerimaan== | |||
Doraemon: Nobita and the Kingdom of Clouds dirilis secara teatrikal di Jepang oleh Toho pada tanggal 7 Maret 1992. Film ini sukses secara komersial, mengumpulkan pendapatan kotor sebesar ¥1,68 miliar di Jepang, menjadikannya salah satu film dengan pendapatan tertinggi pada tahun tersebut. Seluruh pemeran utama seperti Nobuyo Ōyama (Doraemon), Noriko Ohara (Nobita), dan lainnya kembali mengisi suara karakter mereka. Secara keseluruhan, film ini umumnya mendapat ulasan positif dari kritikus dan penggemar. Banyak yang memuji kedalaman cerita dan pesan lingkungannya yang kuat, yang jarang diangkat dalam film animasi anak pada zamannya. Alur ceritanya yang kelam dan menegangkan, terutama adegan Doraemon yang "rusak" dan akhir dunia, sering disebut sebagai salah satu momen paling berkesan dari seri film Doraemon. Namun, ada beberapa kritik yang mengatakan bahwa film ini terlalu padat dengan pesan moral, sehingga mengurangi porsi komedi yang menjadi ciri khas serial ini secara keseluruhan. | |||
==Warisan dan Pengaruh== | |||
Film ini dikenal sebagai salah satu sekuel paling berani dalam sejarah Doraemon karena berani menggambarkan skenario kiamat. Ini adalah pertama kalinya dalam serial film Doraemon yang secara eksplisit menggambarkan kepunahan total peradaban manusia di masa depan. Selain itu, film ini juga merupakan film Doraemon terakhir yang menampilkan suara dari Masayuki Kato (pengisi suara ayah Nobita, Nobisuke) yang meninggal tidak lama setelah perilisan film ini. Kingdom of the Clouds juga unik karena merupakan salah satu dari sedikit film Doraemon yang secara langsung menyambungkan cerita panjangnya dengan episode-episode pendek sebelumnya. Kehadiran karakter-karikat lama seperti Hoi, Kibō, dan burung Dodo digunakan secara cerdas sebagai "alat bukti" di pengadilan untuk membela umat manusia. Hal ini menjadikan film ini sangat memuaskan bagi penggemar lama yang mengikuti petualangan Nobita di berbagai media. | |||
==Lihat Pula== | |||
*[[Doraemon: Nobita and the Animal Planet]] | |||
*[[Doraemon: Nobita and the New Steel Troops]] | |||
*[[Doraemon: Nobita's Diary on the Creation of the World]] | |||
==Referensi== | |||
# "Doraemon: Nobita and the Kingdom of Clouds - Wikipedia". Wikipedia, the free encyclopedia. Diakses pada 12 Mei 2026. | |||
# "ドラえもん のび太と雲の王国 - Wikipedia". Wikipedia. Diakses pada 12 Mei 2026. | |||
# "Doraemon: Nobita and the Kingdom of Clouds". Doraemon Wiki - Fandom. Diakses pada 12 Mei 2026. | |||
# "Doraemon: Nobita and the Kingdom of Clouds". TV Tropes. Diakses pada 12 Mei 2026. | |||
[[Kategori:Film animasi Jepang tahun 1992]] | |||
[[Kategori:Film Doraemon]] | |||
[[Kategori:Film tentang lingkungan hidup]] | |||
[[Kategori:Film bertema peradaban kuno]] | |||
[[Kategori:Film yang disutradarai oleh Tsutomu Shibayama]] | |||
[[Kategori:Film yang berlatar di dunia awan]] | |||
Revisi per 11 Mei 2026 18.43
Doraemon: Nobita and the Kingdom of Clouds (ドラえもん のび太と雲の王国, Doraemon: Nobita to Kumo no Ōkoku) adalah sebuah film animasi Jepang tahun 1992 yang disutradarai oleh Tsutomu Shibayama. Film ini merupakan seri ke-13 dari waralaba Doraemon dan didasarkan pada volume ke-12 dari manga Doraemon Long Stories dengan judul yang sama. Film ini pertama kali ditayangkan di Jepang pada tanggal 7 Maret 1992 dan didistribusikan oleh Toho. Dengan durasi 98 menit, film ini mengusung tema lingkungan hidup yang kuat, menyoroti dampak negatif aktivitas manusia terhadap alam. Ceritanya mengikuti Nobita dan teman-temannya yang membangun kerajaan di atas awan, hanya untuk menemukan sebuah peradaban misterius yang berencana menyelamatkan Bumi dengan cara yang ekstrem. Film ini meraup pendapatan kotor sebesar ¥1,68 miliar (sekitar US$26,2 juta) dan menjadi salah satu film Doraemon dengan pesan moral yang paling mendalam.
Sinopsis
Cerita dimulai dengan sebuah kapal luar angkasa asing yang memperingatkan seorang lelaki tua beserta putra dan cucunya untuk segera meninggalkan pulau tempat mereka tinggal. Peringatan itu diabaikan, dan malam harinya, banjir besar menghancurkan hampir seluruh pulau tersebut. Sementara itu, di kota tempat Nobita tinggal, ia bertanya kepada gurunya apakah surga benar-benar ada di atas awan. Pertanyaan polos ini malah ditertawakan oleh guru dan teman-temannya, termasuk Shizuka. Merasa terhina, Nobita bersikeras mencari kebenaran tentang surga. Doraemon, yang awalnya ragu, akhirnya setuju untuk membantu Nobita membangun surga versi mereka sendiri.
Dengan menggunakan alat-alat canggih seperti "Gas Pemadat Awan" dan "Robot-robot Kecil", Nobita dan Doraemon mulai menciptakan sebuah kerajaan di atas gumpalan awan raksasa yang tersembunyi. Mereka kemudian mengundang Giant, Suneo, dan Shizuka untuk ikut serta. Suneo, dengan modal keuangannya, menjadi pemilik saham terbesar, memungkinkan pembangunan berbagai fasilitas mewah di kerajaan awan tersebut, termasuk kastil yang megah. Nobita diberi mahkota khusus oleh Doraemon yang membuat semua penghuni kerajaan awannya harus menaatinya, serta selendang terbang untuk berkeliling. Selama beberapa waktu, mereka menikmati liburan impian di kerajaan awan pribadi mereka. Namun, kegembiraan itu terusik ketika berita tentang serangkaian peristiwa aneh mulai bermunculan di seluruh dunia: sebidang tanah hutan di Afrika lenyap setelah diselimuti awan tebal, demikian pula dengan sekelompok pemburu liar.
Suatu hari, kerajaan awan mereka bertabrakan dengan sebuah gunung. Saat menyelidiki tabrakan itu, Nobita dan Doraemon menemukan seorang anak laki-laki pingsan yang menunggangi seekor makhluk purba mirip Glyptodon, hewan yang telah punah 11.000 tahun lalu. Setelah menyembuhkan anak itu, mereka mengetahui bahwa ia berasal dari dunia lain di atas awan. Atas petunjuk anak itu, mereka memasuki dunia tersebut dan menemukan sebuah peradaban maju yang dihuni oleh para "Manusia Awan" (Sky People). Dunia ini memiliki teknologi luar biasa dan menjadi tempat perlindungan bagi berbagai hewan purba yang telah punah di Bumi. Namun, Nobita dan teman-temannya segera menyadari bahwa para penghuni awan ini menyimpan rahasia kelam: sebuah rencana bernama "Proyek Nuh" (Project Noah). Karena prihatin dengan kerusakan lingkungan yang terus-menerus dilakukan oleh manusia di Bumi, para Manusia Awan berencana untuk memicu hujan badai raksasa yang akan membanjiri seluruh dunia, memusnahkan peradaban manusia, dan mengembalikan Bumi ke keadaannya yang alami.
Nobita dan teman-temannya ditangkap dan dipenjara. Sementara itu, Doraemon, yang berusaha menyelamatkan mereka, tertembak oleh senjata energi para Manusia Awan dan mengalami kerusakan parah yang membuatnya tidak berfungsi. Dalam keadaan darurat, Nobita menggunakan "Pintu ke Mana Saja" (Anywhere Door) untuk melarikan diri, tetapi secara tidak sengaja mereka melompat 10 hari ke masa depan. Di masa depan itu, mereka menyaksikan bumi dalam keadaan porak-poranda akibat banjir besar. Kengerian itu memacu mereka untuk kembali ke masa sekarang dan menghentikan Proyek Nuh. Di saat-saat terakhir, dengan bantuan para hewan yang pernah ditolong Doraemon di episode sebelumnya, serta kesaksian dari anak yang mereka tolong sebelumnya, Nobita berhasil membujuk para Manusia Awan bahwa masih ada harapan untuk manusia. Film berakhir dengan pembatalan Proyek Nuh dan para Manusia Awan yang mulai membuka diri untuk bekerja sama dengan manusia Bumi menyelamatkan lingkungan.
Karakter
Selain karakter utama seperti Nobita Nobi, Doraemon, Shizuka Minamoto, Takeshi "Giant" Goda, dan Suneo Honekawa, film ini memperkenalkan sejumlah karakter eksklusif. Salah satunya adalah Paruparu, seorang kurator wanita di cagar alam hewan purba milik Manusia Awan. Meskipun awalnya ikut mendukung Proyek Nuh, ia mulai meragukan rencana tersebut setelah berinteraksi dengan Nobita dan mengembangkan perasaan iba kepada mereka. Sosok antagonis utama dipegang oleh Gurio, seorang kurator pria yang selalu mengenakan topeng misterius. Ia sangat membenci manusia Bumi dan menjadi pendukung paling fanatik dari Proyek Nuh. Selain itu, terdapat pula seorang Presiden yang memimpin para Manusia Awan, yang meskipun bukan tokoh jahat, ia sangat dipengaruhi oleh laporan dan kecurigaan bahwa manusia Bumi tidak akan pernah berubah. Film ini juga istimewa karena menampilkan banyak "karakter tamu" dari episode atau film sebelumnya, seperti Hoi (suku kerdil dari "Donjara Village"), Kibō (sebuah pohon yang pernah dirawat Nobita), dan beberapa burung Dodo, yang semuanya memberikan kesaksian bahwa ada manusia baik di Bumi.
Produksi dan Tema
Sama seperti film-film Doraemon lainnya pada era 1990-an, produksi film ini melibatkan Shin-Ei Animation bekerja sama dengan TV Asahi dan Shogakukan. Sutradara Tsutomu Shibayama, yang juga menyutradarai beberapa film Doraemon lainnya, bertanggung jawab mengadaptasi cerita panjang karya Fujiko F. Fujio ke dalam format layar lebar. Fujiko F. Fujio sendiri masih terlibat langsung sebagai pengawas dan penulis skenario. Musik pengiringnya digubah oleh komposer veteran Shunsuke Kikuchi, yang telah lama menjadi andalan seri Doraemon. Lagu tema penutup film ini berjudul "Kumo ga Yuku no wa" yang dinyanyikan oleh Tetsuya Takeda. Film ini merupakan salah satu film Doraemon yang paling gamblang dalam menyampaikan kritik terhadap perusakan lingkungan. Tema "Green Aesop" (pesan moral tentang lingkungan) sangat kental, di mana para Manusia Awan digambarkan frustrasi dengan ulah manusia yang membakar hutan, memburu hewan, dan mencemari laut. Proyek Nuh dalam cerita ini merupakan metafora yang jelas terhadap peringatan akan hukuman alam bagi manusia yang serakah.
Perilisan dan Penerimaan
Doraemon: Nobita and the Kingdom of Clouds dirilis secara teatrikal di Jepang oleh Toho pada tanggal 7 Maret 1992. Film ini sukses secara komersial, mengumpulkan pendapatan kotor sebesar ¥1,68 miliar di Jepang, menjadikannya salah satu film dengan pendapatan tertinggi pada tahun tersebut. Seluruh pemeran utama seperti Nobuyo Ōyama (Doraemon), Noriko Ohara (Nobita), dan lainnya kembali mengisi suara karakter mereka. Secara keseluruhan, film ini umumnya mendapat ulasan positif dari kritikus dan penggemar. Banyak yang memuji kedalaman cerita dan pesan lingkungannya yang kuat, yang jarang diangkat dalam film animasi anak pada zamannya. Alur ceritanya yang kelam dan menegangkan, terutama adegan Doraemon yang "rusak" dan akhir dunia, sering disebut sebagai salah satu momen paling berkesan dari seri film Doraemon. Namun, ada beberapa kritik yang mengatakan bahwa film ini terlalu padat dengan pesan moral, sehingga mengurangi porsi komedi yang menjadi ciri khas serial ini secara keseluruhan.
Warisan dan Pengaruh
Film ini dikenal sebagai salah satu sekuel paling berani dalam sejarah Doraemon karena berani menggambarkan skenario kiamat. Ini adalah pertama kalinya dalam serial film Doraemon yang secara eksplisit menggambarkan kepunahan total peradaban manusia di masa depan. Selain itu, film ini juga merupakan film Doraemon terakhir yang menampilkan suara dari Masayuki Kato (pengisi suara ayah Nobita, Nobisuke) yang meninggal tidak lama setelah perilisan film ini. Kingdom of the Clouds juga unik karena merupakan salah satu dari sedikit film Doraemon yang secara langsung menyambungkan cerita panjangnya dengan episode-episode pendek sebelumnya. Kehadiran karakter-karikat lama seperti Hoi, Kibō, dan burung Dodo digunakan secara cerdas sebagai "alat bukti" di pengadilan untuk membela umat manusia. Hal ini menjadikan film ini sangat memuaskan bagi penggemar lama yang mengikuti petualangan Nobita di berbagai media.
Lihat Pula
- Doraemon: Nobita and the Animal Planet
- Doraemon: Nobita and the New Steel Troops
- Doraemon: Nobita's Diary on the Creation of the World
Referensi
- "Doraemon: Nobita and the Kingdom of Clouds - Wikipedia". Wikipedia, the free encyclopedia. Diakses pada 12 Mei 2026.
- "ドラえもん のび太と雲の王国 - Wikipedia". Wikipedia. Diakses pada 12 Mei 2026.
- "Doraemon: Nobita and the Kingdom of Clouds". Doraemon Wiki - Fandom. Diakses pada 12 Mei 2026.
- "Doraemon: Nobita and the Kingdom of Clouds". TV Tropes. Diakses pada 12 Mei 2026.