TikTok

Revisi sejak 14 Februari 2026 00.39 oleh Tegaroom (bicara | kontrib)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

ADVERTISEMENT

TikTok adalah aplikasi berbagi video pendek yang dimiliki oleh ByteDance, sebuah perusahaan teknologi asal Tiongkok. Aplikasi ini memungkinkan pengguna untuk membuat dan membagikan klip video berdurasi singkat, biasanya antara 15 hingga 60 detik, meskipun fitur terbaru memungkinkan hingga 10 menit. TikTok dikenal dengan algoritma rekomendasi yang canggih, yang menampilkan konten berdasarkan preferensi pengguna melalui halaman "For You". Pada awal 2026, TikTok memiliki lebih dari 1,5 miliar pengguna aktif bulanan di seluruh dunia, dengan pertumbuhan signifikan di Asia, Eropa, dan Amerika Utara. Namun, platform ini menghadapi tantangan besar, termasuk perubahan kepemilikan di Amerika Serikat yang memicu kontroversi privasi dan gangguan teknis.

TikTok pertama kali diluncurkan sebagai Douyin di Tiongkok pada September 2016, dan versi internasionalnya dirilis pada 2017. Popularitasnya meledak setelah merger dengan Musical.ly pada 2018, yang memperluas basis pengguna global. Hingga 2026, TikTok telah menjadi salah satu aplikasi paling diunduh di dunia, dengan pendapatan iklan mencapai puluhan miliar dolar AS. Di Indonesia, TikTok menjadi platform favorit bagi kreator muda, dengan jutaan pengguna aktif yang memanfaatkannya untuk hiburan, edukasi, dan bisnis.

Sejarah

TikTok bermula dari aplikasi Douyin yang dikembangkan oleh ByteDance di Beijing pada 2016. Awalnya bernama A.me, aplikasi ini berganti nama menjadi Douyin pada Desember tahun yang sama. Dalam waktu singkat, Douyin mencapai 100 juta pengguna di Tiongkok dengan miliaran penayangan video harian. Versi internasional, TikTok, diluncurkan pada September 2017 untuk pasar di luar Tiongkok, tersedia di perangkat iOS dan Android.

Pada 2018, ByteDance mengakuisisi Musical.ly, sebuah platform serupa yang populer di kalangan remaja Barat. Merger ini mengintegrasikan akun dan konten Musical.ly ke TikTok, membuatnya tersedia secara global kecuali di Tiongkok daratan. Ekspansi cepat terjadi: pada akhir 2018, TikTok menjadi aplikasi paling diunduh di Thailand dan Amerika Serikat. Pada Februari 2019, total unduhan mencapai satu miliar di seluruh dunia.

Pada 2020, TikTok melampaui dua miliar unduhan, didorong oleh pandemi COVID-19 yang meningkatkan penggunaan media sosial. Pada September 2021, platform ini mencapai satu miliar pengguna aktif bulanan. Pendapatan iklan TikTok tumbuh pesat, dari sekitar empat miliar dolar AS pada 2021 menjadi lebih dari 14 miliar pada 2023. Pada 2022, TikTok memperkenalkan fitur e-commerce seperti TikTok Shop, yang diekspansi ke Amerika Serikat.

Perubahan signifikan terjadi pada Januari 2026, ketika operasi TikTok di Amerika Serikat dipindahkan ke usaha patungan dengan investor AS, termasuk Oracle, Silver Lake, dan MGX. Langkah ini merupakan respons terhadap undang-undang keamanan nasional AS yang menuntut divestasi dari ByteDance. Namun, transisi ini tidak mulus, dengan gangguan teknis masif dan tuduhan sensor politik yang muncul segera setelahnya.

Pada Mei 2021, Shou Zi Chew ditunjuk sebagai CEO TikTok, menggantikan Vanessa Pappas setelah Kevin Mayer mundur. Kemitraan penting termasuk dengan NFL pada 2019, Oracle untuk hosting cloud pada 2020, dan Sony Music serta Warner Music Group untuk lisensi lagu. Pada 2021, TikTok bermitra dengan Departemen Kebudayaan Abu Dhabi untuk promosi pariwisata.

Hingga 2026, TikTok terus berkembang dengan integrasi AI lebih dalam, meskipun menghadapi regulasi ketat di berbagai negara. Di Indonesia, TikTok Awards telah menjadi acara tahunan sejak 2021, disiarkan di televisi nasional untuk menghargai kreator lokal.

Fitur

TikTok menawarkan berbagai fitur yang membuatnya mudah digunakan untuk pembuatan konten kreatif. Pengguna dapat merekam video dengan musik latar, filter efek khusus, dan pengaturan kecepatan. Durasi video bervariasi dari tiga detik hingga 10 menit, memungkinkan konten beragam dari tarian singkat hingga tutorial panjang.

Halaman "For You" adalah fitur utama, menggunakan algoritma AI untuk merekomendasikan video berdasarkan interaksi pengguna sebelumnya. Fitur "React" memungkinkan pengguna merekam reaksi mereka terhadap video lain dalam jendela kecil yang bisa digeser. "Duet" memungkinkan pembuatan video berdampingan dengan konten asli, asalkan pengaturan privasi mengizinkan.

Pengguna dapat menyimpan video sebagai draft sebelum diposting, dan akun bisa diatur privat untuk membatasi interaksi. Pesan langsung (DM) mendukung pengiriman video, emoji, dan teks. Live streaming tersedia untuk pengguna di atas 16 tahun dengan minimal 1.000 pengikut, di mana hadiah virtual bisa diterima dan ditukar menjadi uang untuk mereka yang berusia di atas 18 tahun.

Fitur keamanan termasuk Family Safety Mode yang diluncurkan pada Februari 2020, memungkinkan orang tua mengelola waktu layar dan batas pesan. Family Pairing pada September 2020 menambahkan sumber daya edukasi. Pada Oktober 2021, fitur Tips memungkinkan pemberian tip langsung ke kreator dengan 100.000 pengikut atau lebih.

Live Studio, dirilis Desember 2021, adalah perangkat lunak streaming berbasis OBS Studio. TikTok Pulse pada Mei 2022 membagi pendapatan iklan 50 persen untuk kreator top. Aplikasi mendukung puluhan bahasa, termasuk Indonesia, membuatnya aksesibel secara global.

Pada 2026, update kebijakan baru mencakup pengumpulan data sensitif seperti ras, etnis, dan orientasi seksual, yang memicu kritik dari pengguna. Fitur seperti pengurangan kecanduan, seperti istirahat setelah 90 menit penggunaan, telah ditingkatkan untuk melindungi kesehatan mental.

Penggunaan dan Popularitas

TikTok populer di kalangan Generasi Z, dengan 41 persen pengguna berusia 16-24 tahun. Sekitar 90 persen pengguna mengaksesnya setiap hari, menghabiskan rata-rata satu jam 25 menit per sesi. Di Indonesia, jutaan pengguna memanfaatkannya untuk tren lokal seperti tantangan musik dangdut atau edukasi budaya.

Platform ini melahirkan selebriti internet seperti Charli D'Amelio, yang pertama mencapai 50 juta pengikut, dan Khaby Lame sebagai pengguna paling diikuti pada 2022. Tren viral sering memengaruhi musik, seperti "Old Town Road" oleh Lil Nas X yang meledak berkat TikTok. Di Korea, lagu Zico "Any Song" mendominasi chart melalui tantangan.

Bisnis memanfaatkan TikTok untuk pemasaran. Integrasi dengan Shopify pada 2020 memungkinkan penjualan langsung. Kemitraan seperti Chipotle dengan David Dobrik pada 2019 dan Dunkin' Donuts dengan Charli D'Amelio pada 2020 menunjukkan kekuatan influencer. Tren "de-influencing" pada 2022 mengkritik produk, meskipun kadang menjadi promosi terselubung.

Selama pandemi, TikTok digunakan untuk pendidikan, dengan guru memberikan tugas melalui video. Di Indonesia, pemblokiran akses untuk anak di bawah 16 tahun direncanakan mulai Maret 2026 untuk melindungi dari dampak negatif. Popularitas TikTok terus naik pada 2026, meskipun ancaman penghapusan aplikasi di AS akibat kebijakan baru.

Konten beragam mencakup komedi, lip-sync, dan promosi OnlyFans melalui kode tersembunyi. Pada 2026, fokus pada konten berkualitas tinggi meningkat, dengan sistem rating kreator yang menghukum video tidak interaktif.

Kontroversi

TikTok sering dikritik karena isu privasi data, dengan kekhawatiran bahwa ByteDance berbagi informasi dengan pemerintah Tiongkok. Pada Januari 2026, kebijakan baru di AS memungkinkan pengumpulan data sensitif seperti status kewarganegaraan dan data keuangan, memicu ribuan pengguna mengancam meninggalkan platform.

Beberapa negara membatasi TikTok: India melarangnya pada 2020 bersama aplikasi Tiongkok lain; Pakistan memblokir sementara karena konten tidak bermoral. Di AS, Donald Trump mengancam larangan pada 2020, yang dicabut oleh Joe Biden pada 2021. Namun, pada 2026, perubahan kepemilikan ke investor AS memicu gangguan teknis, seperti video dengan nol penayangan, dan tuduhan sensor politik.

Konten negatif termasuk misinformasi COVID-19, di mana 19,4 persen pencarian menampilkan berita palsu. Misinformasi pemilu AS menyebabkan penghapusan ratusan ribu video. Teori konspirasi seperti QAnon dan penyangkalan Holocaust menyebar luas sebelum diblokir.

Dampak kesehatan mental menjadi isu besar: tren bedah kosmetik seperti #NoseJobCheck mencapai miliaran penayangan, mempromosikan standar kecantikan tidak realistis. Pada 2022, tren pengangkatan lemak pipi viral, dengan ahli bedah menawarkan diskon ke influencer. Uni Eropa pada 2026 menemukan TikTok melanggar Digital Services Act karena desain adiktif seperti scroll tak terbatas.

Di Indonesia, kontroversi mencakup dampak negatif pada anak, dengan rencana pemblokiran akses mulai 2026. TikTok juga dikritik karena royalti musik rendah dan penyebaran konten berbahaya.

Dampak

TikTok memiliki dampak positif sebagai platform kreativitas, meluncurkan karir selebriti dan mempopulerkan musik. Ekspansi e-commerce melalui TikTok Shop meningkatkan ekonomi digital, terutama bagi UMKM di Indonesia. Kemitraan pariwisata mempromosikan destinasi global.

Namun, dampak negatif termasuk penyebaran misinformasi yang memengaruhi opini publik. Kesehatan mental pengguna, khususnya anak muda, terganggu oleh kecanduan dan tekanan sosial. Pendapatan monetisasi rendah dibandingkan platform lain, dengan hanya 0,31 dolar AS per jam di AS.

Pada 2026, proyeksi pertumbuhan TikTok melibatkan AI dan e-commerce, tetapi regulasi global semakin ketat. Di AS, krisis pasca-perubahan kepemilikan menyebabkan lonjakan penghapusan aplikasi. Secara keseluruhan, TikTok membentuk budaya digital, meskipun dengan biaya sosial yang tinggi.

Lihat Pula

  • ByteDance sebagai perusahaan induk TikTok yang mengelola berbagai platform teknologi global.
  • Instagram Reels menawarkan fitur serupa dengan video pendek yang kompetitif di pasar media sosial.
  • YouTube Shorts sebagai alternatif dari Google yang fokus pada konten vertikal singkat dengan integrasi ekosistem YouTube yang lebih luas.

Referensi

  1. Wikipedia: TikTok
  2. Jawa Pos: Pekan Perdana TikTok di Bawah Kendali AS Berujung Krisis Data, Tuduhan Sensor, dan Pergeseran Kontrol Digital
  3. KXAN: TikTok's new 2026 policies explained, why thousands of users say they are leaving
  4. Instagram: TikTok mengumumkan pemisahan operasional di Amerika Serikat pada Januari 2026
  5. Kompas Money: Nasib TikTok di AS Belum Jelas, Investor Masih Menunggu
  6. TikTok: TikTok Announces 2026 Rule Changes
  7. U.S. News & World Report: TikTok Faces App Deletions, Censorship Claims and Glitches in Days After Its Ownership Change
  8. TikTok: Pembatasan Sosmed untuk Anak di Indonesia Mulai 2026
  9. RRI: Aplikasi Tiktok Populer, Namun Ada Dampak Negatif dari Pengguna
  10. Techmind.id: Pemblokiran TikTok di AS, Apa yang Terjadi? TikTok di Ujung Tanduk?
  11. TikTok: Trend Media Sosial 2026: Pentingnya Website Pribadi
  12. Liputan6.com: Nasib TikTok di Ujung Tanduk, Mahkamah Agung AS Jadi Penentu Tetap Beroperasi atau Tutup