A Journey Through Fairyland
ADVERTISEMENT
A Journey Through Fairyland, yang juga dikenal sebagai Yousei Furorensu atau Fairy Florence (妖精フローレンス), merupakan film animasi Jepang karya produksi Sanrio yang dirilis pada tahun 1985. Film ini menceritakan petualangan magis seorang pemuda bernama Michael bersama seorang peri bunga bernama Florence.
Sanrio, perusahaan di balik karakter ikonik seperti Hello Kitty, menciptakan film ini sebagai bagian dari lini animasi mereka yang sering kali menggabungkan elemen fantasi dan musik. Meskipun tidak sepopuler karya Sanrio lainnya, film ini tetap menjadi permata langka bagi penggemar animasi klasik.
Dengan durasi sekitar 91 menit, film ini menekankan pada elemen visual dan musik daripada plot yang rumit, sering dibandingkan dengan Fantasia milik Disney. Ceritanya berfokus pada tema cinta terhadap alam dan musik.
Film ini dirilis di Jepang pada 19 Oktober 1985 dan kemudian di Amerika Serikat pada tahun 1989 melalui Celebrity Home Entertainment. Bahasa aslinya adalah Jepang, dengan dubbing Inggris yang tersedia.
Sebagai film animasi terakhir Sanrio sebelum jeda panjang hingga 2007, A Journey Through Fairyland menandai akhir era produksi fitur animasi mereka untuk sementara waktu.
Plot
Cerita dimulai dengan Michael, seorang pemuda berbakat yang belajar di sekolah musik dan memainkan oboe. Ia lebih menyukai merawat bunga di rumah kaca daripada berlatih musik.
Karena sering terlambat ke latihan orkestra akibat kegemarannya pada tanaman, Michael akhirnya dipecat oleh profesornya. Ia merasa sedih dan kehilangan arah.
Pada suatu malam, saat Michael tertidur di rumah kaca, ia dibangunkan oleh seorang peri bunga mungil bernama Florence. Peri itu datang untuk berterima kasih atas perawatan Michael terhadap bunga-bunga.
Florence mengajak Michael ke negeri asalnya, Flower Land, menggunakan tongkat ajaib. Di sana, bunga-bunga hidup, nada musik menjadi nakal, dan petualangan menanti.
Selama perjalanan, Michael bertemu berbagai makhluk fantastis, termasuk treble notes yang lincah dan elemen musik yang hidup. Ia belajar menggabungkan cinta pada bunga dengan passion musiknya.
Konflik muncul ketika Florence kehilangan kemampuannya kembali ke Flower Land. Ia tidak bisa bertahan di dunia manusia dan akhirnya menghilang menjadi embun pagi.
Sebelum menghilang, Florence meminta Michael untuk fokus pada musiknya. Michael pun kembali ke sekolah, memohon kesempatan kedua, dan menjadi musisi hebat.
Akhir cerita bittersweet, di mana Michael menemukan jati dirinya, meskipun kehilangan teman barunya. Tema utama adalah penemuan diri melalui alam dan seni.
Plot film ini lebih menekankan pada urutan musik dan visual daripada dialog panjang, membuatnya seperti simfoni animasi.
Beberapa adegan menampilkan musik klasik terkenal seperti Flight of the Bumblebee dan Waltz of the Flowers, yang mengiringi petualangan mereka.
Produksi
Film ini disutradarai oleh Masami Hata, yang dikenal dengan karya animasi Sanrio sebelumnya. Skenario ditulis oleh Kyu Takabatake, dengan cerita asli dari Shintarô Tsuji, pendiri Sanrio.
Produksi dilakukan oleh Sanrio Films, dengan Atsushi Tomioka dan Tsunemasa Hatano sebagai produser. Sinematografi oleh Iwao Yamaki, dan editing oleh Satoshi Yoshioka.
Musik disusun oleh Naozumi Yamamoto, yang mengintegrasikan komposisi klasik dari Beethoven, Chopin, dan lainnya. Ada satu lagu orisinal berjudul My Name is Florence.
Film ini diproduksi di Jepang, dengan kolaborasi internasional termasuk dubbing Inggris. Animasi dibuat dengan gaya tradisional, menekankan keindahan alam dan musik.
Proses produksi memakan waktu beberapa tahun, mengingat detail visual yang rumit. Sanrio ingin menciptakan pengalaman seperti mimpi bagi penonton semua usia.
Beberapa elemen animasi terinspirasi dari film seperti Nausicaä of the Valley of the Wind karya Hayao Miyazaki, terlihat dalam desain latar belakang.
Film ini menjadi yang terakhir dari Sanrio dalam format fitur animasi hingga mereka kembali pada 2007. Ini menandai transisi perusahaan ke merchandise karakter.
Budget produksi tidak secara resmi diungkap, tetapi fokus pada musik klasik menunjukkan upaya untuk menarik audiens global.
Tim animasi termasuk seniman yang kemudian bekerja di proyek Sanrio lain, menjaga konsistensi gaya.
Secara keseluruhan, produksi menekankan pada estetika daripada narasi kompleks, membuatnya unik di era animasi Jepang 1980-an.
Pemeran
Dalam versi asli Jepang, Masachika Ichimura menyuarakan Michael, membawa nuansa emosional pada karakter pemuda yang bingung.
Tomoko Kaneda sebagai Florence, memberikan suara lembut dan magis pada peri bunga tersebut.
Asei Kobayashi memerankan guru musik Profesor Low Note, dengan nada otoriter yang kontras dengan dunia fantasi.
Mizuki Nakajima menyuarakan Musica dan Treble, menambahkan elemen musik hidup ke cerita.
Chika Takami sebagai Laura, teman Michael yang mendukung.
Dalam dubbing Inggris, Jeremy Graham sebagai Michael, Audra Sears Henning sebagai Florence, dan A. Gregory sebagai Profesor.
Barbara Jane Henning menyuarakan Laura, sementara Jo Catanzaro sebagai narator yang membimbing cerita.
Pemeran suara dipilih untuk mencocokkan tema musik, dengan latar belakang seni vokal.
Beberapa aktor seperti Ichimura terkenal di teater Jepang, menambahkan kredibilitas.
Dubbing Inggris dilakukan untuk rilis AS, menyesuaikan dialog agar lebih mudah dipahami anak-anak Barat.
Rilis
Film pertama kali dirilis di Jepang pada 19 Oktober 1985, di bioskop lokal dengan sambutan hangat dari keluarga.
Pada 1989, dirilis di Amerika Serikat oleh Celebrity Home Entertainment, dengan judul A Journey Through Fairyland.
Versi video rumah tersedia di VHS dan kemudian DVD, meskipun jarang ditemukan saat ini.
Di platform streaming, film ini kadang muncul di YouTube atau situs anime, meskipun tidak resmi.
Rilis internasional termasuk dubbing dalam bahasa Inggris, membuatnya accessible bagi audiens global.
Sanrio mempromosikan film melalui merchandise seperti boneka Florence dan soundtrack.
Pada era digital, film ini diunggah ulang di situs seperti BiliBili dan YouTube, menarik penggemar baru.
Tidak ada rilis ulang resmi baru-baru ini, tetapi tetap menjadi kultus di komunitas animasi.
Durasi 91 menit membuatnya cocok untuk pemutaran keluarga.
Rilis Jepang dikenal sebagai Yousei Furorensu, sementara internasional menggunakan Fairy Florence.
Penerimaan
Film ini menerima ulasan campuran, dengan pujian pada animasi dan musik, tapi kritik pada plot yang tipis.
Dibandingkan dengan Fantasia Disney karena fokus pada musik klasik daripada cerita linier.
Di IMDb, rating sekitar 6.9/10 dari ratusan ulasan, menunjukkan apresiasi sedang.
Penggemar Sanrio menganggapnya sebagai raritas, meskipun kurang populer dibanding Unico atau Ringing Bell.
Ulasan di Letterboxd memuji visual dreamlike, tapi menyebut dialog kadang cheesy.
Di Reddit dan Tumblr, diskusi menyoroti elemen trippy dan homage ke Miyazaki.
Secara komersial, tidak sebesar hit Sanrio lain, tapi tetap ikonik di niche animasi 1980-an.
Beberapa kritikus menyebutnya pengalaman magis untuk semua usia, dengan musik sebagai bintang utama.
Pada festival animasi, film ini kadang diputar sebagai contoh animasi Jepang awal.
Hingga 2026, film ini tetap relevan di komunitas online, dengan unggahan playlist YouTube.
Lihat Pula
- Unico, film animasi Sanrio lain yang menampilkan unicorn magis dalam petualangan fantasi.
- The Sea Prince and the Fire Child, karya Sanrio yang menggabungkan mitologi dan romansa.
- Ringing Bell, animasi Sanrio dengan tema lebih gelap tentang seekor domba yang mencari balas dendam.
Referensi
- Wikipedia - A Journey Through Fairyland
- IMDb - A Journey Through Fairyland (1985)
- YouTube - A Journey Through Fairyland
- Hello Kitty Wiki - A Journey Through Fairyland
- TV Tropes - A Journey Through Fairyland (Anime)
- Letterboxd - A Journey Through Fairyland (1985) directed by Masami Hata
- AniList - Yousei Florence (A Journey Through Fairyland)
- Anime-Planet - A Journey Through Fairyland