Have a Song on Your Lips
ADVERTISEMENT
Have a Song on Your Lips (Jepang: くちびるに歌を, Kuchibiru ni uta o) adalah film drama musikal Jepang tahun 2015 yang disutradarai oleh Takahiro Miki. Film ini diadaptasi dari novel berjudul sama karya Eiichi Nakata (dengan nama pena Otsuichi), dan dirilis secara teatrikal pada 28 Februari 2015 di Jepang oleh Asmik Ace. Berdurasi 132 menit, film ini mengisahkan perjalanan emosional seorang mantan pianis jenius yang kembali ke kampung halamannya di Kepulauan Goto, Prefektur Nagasaki, untuk membimbing paduan suara sekolah menengah pertama yang nyaris bubar. Melalui musik, Yuri Kashiwagi tidak hanya membantu para siswa menemukan suara mereka, tetapi juga menyembuhkan luka batinnya sendiri.
Sinopsis
Cerita berlatar di pulau-pulau terpencil Goto yang dikelilingi laut biru dan alam yang tenang. Yuri Kashiwagi, diperankan oleh Yui Aragaki, adalah seorang pianis berbakat yang tiba-tiba meninggalkan karier gemilangnya di Tokyo karena trauma mendalam yang membuatnya tidak lagi mampu memainkan piano. Ia kembali ke sekolah menengah pertamanya di Goto untuk menggantikan sahabatnya, Haruko Matsuyama, yang sedang cuti melahirkan. Tugas Yuri adalah membimbing paduan suara siswi yang hendak mengikuti kompetisi nasional NCon yang diselenggarakan NHK.
Awalnya, paduan suara hanya diikuti siswi perempuan dan kurang semangat. Kedatangan Yuri justru menarik minat siswa laki-laki, sehingga kelompok tersebut berkembang menjadi paduan suara campuran. Yuri memberikan tugas menulis surat berjudul “Untuk diriku 15 tahun mendatang”, terinspirasi dari lagu “Tegami ~Haikei Jūgo no Kimi e~” karya Angela Aki. Tugas ini memaksa para siswa mengungkapkan ketakutan mereka tentang masa depan, keluarga, dan identitas diri. Salah satu siswa utama adalah Nazuna Nakamura (Yuri Tsunematsu), gadis pemberani yang menyembunyikan luka karena hubungan buruk dengan ayahnya. Ada pula Satoru Kuwabara yang pemalu dan sibuk merawat adik autisnya. Melalui latihan intensif, Yuri melihat bayangan dirinya pada para siswa ini, dan trauma masa lalunya perlahan terungkap.
Produksi
Film ini terinspirasi dari dokumenter NHK tahun 2009 berjudul “Greetings to a 15 year old” yang merekam Angela Aki berinteraksi dengan siswa di Pulau Wakamatsu, Goto. Novel Otsuichi terbit tahun 2011 dan memenangkan Shogakukan Jido Shuppan Bunkasho ke-61 pada 2012. Sebelum difilmkan, cerita ini diadaptasi menjadi novel anak dan manga karya Taishi Mori. Produksi film diumumkan Juli 2014, dengan pengambilan gambar utama berlangsung Juli hingga Agustus 2014 di lokasi asli Kepulauan Goto, Nagasaki.
Sutradara Takahiro Miki, yang sebelumnya menggarap adaptasi seperti Solanin, membawa pendekatan lembut dan penuh empati. Sinematografi Kōichi Nakayama menangkap keindahan alam Goto dengan cahaya lembut dan pemandangan laut luas. Musik latar karya Suguru Matsutani dipadukan dengan potongan klasik seperti Nocturne Opus 9 No. 2 karya Chopin, serta penampilan paduan suara autentik oleh para aktor muda yang memiliki pengalaman menyanyi.
Pemeran
Yui Aragaki memerankan Yuri Kashiwagi dengan nuansa dingin di awal yang perlahan mencair menjadi hangat dan rentan. Fumino Kimura sebagai Haruko Matsuyama memberikan dukungan emosional yang tulus. Kenta Kiritani berperan sebagai Tetsuo Tsukamoto, rekan guru yang membantu Yuri beradaptasi. Di antara pemeran muda, Yuri Tsunematsu (Nazuna) dan Shōta Shimoda (Satoru) menonjol dengan emosi remaja yang kompleks dan autentik.
Penerimaan
Film mendapat sambutan positif dari penonton dan kritikus. Di IMDb, ratingnya mencapai 6,9 dari lebih dari 800 ulasan. Banyak yang memuji integrasi lagu Angela Aki sebagai inti cerita serta kemampuan film menyentuh tanpa berlebihan. Kritikus menyoroti tema penyembuhan melalui musik dan potret realistis tekanan remaja di daerah terpencil. Pendapatan box office di Jepang mencapai sekitar ¥386 juta.
Pada 2025, film ini kembali populer melalui penayangan gratis di platform JFF Theater (Japanese Film Festival) dari Agustus hingga Oktober 2025. Penayangan ulang ini memperkenalkan cerita kepada penonton internasional baru, termasuk di Asia Tenggara dan Indonesia. Ulasan tahun 2025 menyebutnya sebagai “ode yang menyentuh tentang penyembuhan melalui musik”, dengan penekanan bahwa menyanyi adalah tentang keberanian menghadapi masa lalu, bukan kesempurnaan suara.
Tema dan pengaruh
Tema utama adalah kekuatan musik sebagai terapi emosional. Judul film diambil dari puisi Jerman Cäsar Flaischlen: “Hab’ ein Lied auf den Lippen, verlier nie den Mut, hab’ Sonne im Herzen” yang berarti memiliki lagu di bibir, jangan kehilangan keberanian, dan punyai matahari di hati. Film menggambarkan bagaimana paduan suara menyatukan orang-orang dengan luka berbeda, termasuk isu keluarga retak, persahabatan, dan ruang bagi anak muda untuk berekspresi.
Kehidupan di Goto digambarkan penuh kasih sayang, sebagai simbol ketenangan sekaligus keterbatasan. Para siswa menghadapi tantangan seperti hubungan orang tua, tekanan kompetisi, dan ketakutan masa depan. Momen ringan muncul saat siswa laki-laki bergabung, mengubah latihan menjadi sesi penuh tawa dan air mata. Klimaks terjadi pada penampilan NCon, di mana harmoni suara meledakkan emosi yang terpendam.
Lihat pula
- Solanin (film lain karya Takahiro Miki)
- Yui Aragaki
- Otsuichi
Referensi
- Wikipedia - Have a Song on Your Lips
- AsianWiki - Have a Song on Your Lips
- IMDb - Have a Song on Your Lips (2015)
- JFF Theater - Have a Song on Your Lips
- Film Combat Syndicate - JFF Theater: HAVE A SONG ON YOUR LIPS Review (2025)