ADVERTISEMENT

Na Willa adalah film drama keluarga musikal Indonesia tahun 2026 yang disutradarai oleh Ryan Adriandhy dalam debut penyutradaraan live-action-nya. Film ini diadaptasi dari novel anak populer karya Reda Gaudiamo berjudul Na Willa: Serial Catatan Kemarin (2012). Diproduksi oleh Visinema Pictures, film ini menampilkan Luisa Adreena dalam peran utama sebagai seorang gadis kecil bernama Na Willa yang hidup di Surabaya pada era 1960-an .

Dengan durasi 118 menit, Na Willa tayang perdana di bioskop seluruh Indonesia pada 18 Maret 2026, bertepatan dengan momen libur Lebaran. Film ini mendapatkan rating "Semua Umur" dan sejak perilisannya mendapat sambutan hangat dari penonton maupun kritikus karena keberhasilannya menghadirkan nostalgia dan kehangatan masa kecil yang autentik .

Latar Belakang Sastra

Novel Na Willa Karya Reda Gaudiamo

Na Willa lahir dari imajinasi Reda Gaudiamo, seorang penulis, musisi, dan penyanyi asal Jakarta yang juga dikenal sebagai bagian dari duo AriReda di kancah musik Asia Tenggara dan Eropa. Novel ini pertama kali diterbitkan pada tahun 2012 dan kemudian diterbitkan ulang oleh POST Bookpress pada tahun 2018 dengan ilustrasi karya Cecilia Hidayat. Kesuksesan novel ini kemudian melahirkan sekuel berjudul Na Willa dan Rumah dalam Gang .

Berlatar kota Surabaya pada dekade 1960-an hingga 1970-an, novel ini terdiri dari kumpulan cerita pendek yang menggambarkan keseharian seorang gadis kecil bersama keluarga, teman-teman, dan gurunya. Berbeda dengan kebanyakan cerita anak yang cenderung memisahkan dunia anak dari dunia dewasa, Na Willa hadir dengan pendekatan yang unik: menceritakan persoalan kompleks seperti rasisme, identitas budaya, dan realitas sosial melalui sudut pandang polos seorang anak .

Pengakuan dan Terjemahan

Kualitas sastra novel Na Willa mendapat pengakuan internasional. Pada tahun 2019, The Emma Press menerbitkan versi terjemahan bahasa Inggris berjudul The Adventures of Na Willa, diterjemahkan oleh Ikhda Ayuning Maharsi Degoul dan Kate Wakeling. Terjemahan ini memperkenalkan kisah Na Willa kepada pembaca global dan mendapatkan dukungan pendanaan publik dari Arts Council England melalui National Lottery .

Sinopsis

Na Willa mengisahkan kehidupan seorang gadis kecil berusia enam tahun bernama Willa (Luisa Adreena) yang tinggal di sebuah gang di pinggiran kota Surabaya pada tahun 1960-an. Willa adalah anak keturunan campuran—ibunya berasal dari Nusa Tenggara Timur sementara ayahnya adalah keturunan Tionghoa. Ia tinggal bersama Mak (Irma Rihi) dan Pak (Junior Liem), seorang pelaut yang sering bepergian jauh .

Bagi Willa, dunia kecilnya di gang tersebut adalah tempat yang magis dan sempurna. Setiap sudut gang ia pandang sebagai taman bermain yang penuh keajaiban. Melodi dari radio terasa hidup, kios kelontong menyimpan seribu rahasia, dan setiap langkah di luar rumah adalah awal dari petualangan besar bersama tiga sahabatnya: Dul (Azamy Syauqi), Farida (Freya Mikhayla), dan Bud (Arsenio Rafisqy) .

Namun, keajaiban dunianya mulai pudar ketika seorang sahabat mengalami kecelakaan dan satu per satu teman bermainnya mulai masuk sekolah. Kesunyian yang asing menyelimuti hari-hari Willa. Bertekad mengembalikan keadaan seperti sedia kala, ia memutuskan untuk menyusul teman-temannya ke bangku Taman Kanak-Kanak. Namun, dunia sekolah justru membuka tantangan baru. Sekolah bukan sekadar tempat bermain seperti yang ia bayangkan, melainkan dunia yang penuh aturan dan batasan yang membingungkan. Di sanalah Willa perlahan belajar bahwa tumbuh dewasa berarti berdamai dengan perubahan, dan bahwa keajaiban sebenarnya tidak pernah hilang—ia hanya berpindah tempat .

Pemeran

Film Na Willa dibintangi oleh aktris cilik pendatang baru bernama Luisa Adreena yang berhasil membawakan peran utama dengan kepolosan dan keceriaan yang alami. Penampilannya mendapat pujian luas dari kritikus film karena kemampuannya menghadirkan ekspresi jujur saat berimajinasi maupun dalam adegan-adegan emosional .

Pemeran pendukung terdiri dari Irma Rihi sebagai Mak, ibu Willa yang berasal dari Nusa Tenggara Timur, dan Junior Liem sebagai Pak, ayah Willa yang berprofesi sebagai pelaut. Keduanya dinilai berhasil membangun chemistry orangtua-anak yang hangat dan realistis dengan Luisa Adreena .

Pemain lain yang turut ambil bagian adalah Ira Wibowo, Melissa Karim, Freya Mikhayla sebagai Farida, Azamy Syauqi sebagai Dul, Arsenio Rafisqy sebagai Bud, serta Nayla Purnama, Agla Artalidia, dan Putri Ayudra. Kehadiran para pemain cilik dalam film ini dinilai memberikan nuansa yang segar dan tidak dibuat-buat .

Produksi

Pengembangan dan Tim Kreatif

Na Willa menjadi proyek ambisius Visinema Pictures setelah kesuksesan besar film animasi Jumbo yang mencetak rekor sebagai film animasi Indonesia dengan raihan penonton tertinggi sepanjang masa. Tim kreatif di balik Jumbo kembali digandakan untuk menggarap adaptasi live-action ini, dengan Ryan Adriandhy sebagai sutradara dan penulis naskah, serta Anggia Kharisma dan Novia Puspa Sari sebagai produser .

Proyek ini pertama kali diumumkan oleh Visinema pada November 2025. Ryan Adriandhy mengungkapkan bahwa kecintaannya terhadap novel Na Willa sudah lama mendorongnya untuk mewujudkan adaptasi film ini. Menurutnya, karakter Na Willa yang penuh rasa ingin tahu dan keberanian, serta cara Reda Gaudiamo menuliskan dunia anak tanpa memisahkannya dari realitas dewasa di sekitarnya, menjadi daya tarik utama yang membuatnya jatuh cinta pada cerita ini .

Pendekatan Live-Action

Ryan Adriandhy sengaja memilih format live-action alih-alih animasi untuk menghadirkan rasa nostalgia dan realistik yang kuat, mengingat latar cerita berada pada era 1960-an. Menurutnya, cara Na Willa berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya sangat kontekstual dengan zamannya, dan format live-action dianggap paling tepat untuk menangkap jiwa dan nuansa era tersebut .

Produser Anggia Kharisma menegaskan bahwa adaptasi Na Willa tidak sekadar memindahkan cerita dari buku ke layar. Kehadiran elemen visual diharapkan mampu membuat penonton benar-benar masuk ke dalam dunia anak-anak, sebuah pengalaman yang menurutnya jarang hadir dalam film keluarga Indonesia .

Proses syuting dimulai pada akhir pekan kedua November 2025 dan berlangsung hingga awal tahun 2026. Seluruh produksi diselesaikan tepat waktu untuk penayangan perdana pada Maret 2026 .

Gaya Visual dan Musik

Sinematografi dan Tata Artistik

Salah satu keunggulan utama Na Willa terletak pada keberhasilannya menghidupkan kembali atmosfer Surabaya tahun 1960-an. Tim produksi merekonstruksi dengan teliti berbagai elemen visual mulai dari rumah-rumah bergaya tempo dulu, gang yang ramai, hingga pasar tradisional. Komposisi warna cerah, simetri, dan detail pernak-pernik jadul dalam film ini kerap disamakan dengan gaya sinematografi Wes Anderson .

Adegan-adegan imajinasi Na Willa diwujudkan dengan efek animasi lembut yang indah, menciptakan transisi yang mulus antara dunia nyata dan dunia imajinasi seorang anak. Pendekatan visual ini dinilai berhasil membuat penonton seolah-olah benar-benar masuk ke dalam sudut pandang Willa .

Elemen Musikal

Sebagai film bergenre drama keluarga musikal, Na Willa menempatkan musik sebagai elemen penting dalam narasinya. Lagu-lagu era 1960-an seperti "Oh Hesty" dari Lilis Suryani disisipkan dengan pas di sepanjang film. Selain itu, komposisi musik orisinal digarap oleh Laleilmanino, trio musisi yang sebelumnya telah banyak berkarya untuk berbagai film Indonesia .

Musik dalam Na Willa tidak sekadar menjadi pengiring, tetapi juga menjadi bagian integral dari cerita. Salah satu adegan bernyanyi di rumah sakit disebut-sebut sebagai momen yang berhasil membuat penonton tersenyum sekaligus terharu .

Tema dan Analisis

Identitas dan Multikulturalisme

Na Willa mengangkat isu identitas budaya dengan cara yang halus namun mendalam. Willa adalah anak dengan latar belakang ganda: ibunya berasal dari Nusa Tenggara Timur dan ayahnya keturunan Tionghoa. Dalam novel aslinya, isu rasisme terhadap keturunan Tionghoa dieksplorasi melalui interaksi Willa dengan tetangganya yang mengejeknya dengan sebutan "Asu Cino". Kebingungan Willa tentang identitasnya digambarkan dengan jujur melalui sudut pandang seorang anak yang belum sepenuhnya memahami kompleksitas ras dan etnisitas .

Dalam versi filmnya, tema multikulturalisme ini tetap dipertahankan dan digambarkan melalui keseharian keluarga Willa yang hidup di lingkungan yang beragam. Film ini menyajikan potret kehidupan Indonesia yang inklusif, di mana perbedaan budaya dan agama menjadi bagian alami dari kehidupan sehari-hari .

Dunia Anak dan Kedewasaan

Salah satu kekuatan utama Na Willa baik dalam bentuk novel maupun film adalah kemampuannya menceritakan dunia anak tanpa merendahkan atau menyederhanakannya secara berlebihan. Reda Gaudiamo, pengarang novel, menyatakan bahwa cerita anak tidak selalu harus berisi pesan moral dan anak-anak adalah manusia yang bisa merasakan kesedihan. Melalui Na Willa, penonton diajak melihat bahwa anak-anak memiliki agensi—mereka memahami dan menyerap hal-hal yang terjadi di sekitar mereka, meskipun pengetahuan mereka masih terbatas .

Film ini mengeksplorasi momen transisi dari masa kanak-kanak menuju dunia yang lebih dewasa. Ketika Willa memasuki TK, ia dihadapkan pada aturan dan batasan yang sebelumnya tidak ia kenal. Proses adaptasi ini digambarkan bukan sebagai sesuatu yang tragis, melainkan sebagai bagian alami dari pertumbuhan. Pesan yang disampaikan adalah bahwa tumbuh dewasa berarti berdamai dengan perubahan, dan keajaiban masa kecil tidak pernah benar-benar hilang—ia hanya berpindah tempat .

Potret Kehidupan Indonesia 1960-an

Na Willa juga berfungsi sebagai dokumen visual yang merekam potret kehidupan Indonesia pada masa transisi. Era 1960-an adalah periode yang penuh dinamika dalam sejarah Indonesia, namun film ini memilih untuk menyoroti aspek keseharian masyarakat: kebersamaan di gang, tradisi pasar, hiburan sederhana dari radio, dan nilai-nilai kekeluargaan yang kuat. Latar waktu ini dipilih karena dinilai memiliki kekhasan budaya yang ingin diabadikan sekaligus menjadi pembeda dari film-film keluarga Indonesia lainnya .

Perilisan dan Tanggapan

Penayangan

Na Willa resmi tayang di seluruh bioskop Indonesia pada 18 Maret 2026. Sebelum penayangan perdana, beberapa kota menggelar screening khusus sejak 15 Maret 2026. Film ini mendapatkan jadwal tayang yang strategis, bertepatan dengan momen libur Lebaran, sehingga menjangkau penonton keluarga yang sedang berkumpul .

Sambutan Kritikus dan Penonton

Secara umum, Na Willa mendapat sambutan positif dari kritikus film maupun penonton. Keberhasilan film ini dalam menghadirkan nostalgia yang hangat dan membangkitkan rasa rindu akan masa kecil menjadi poin yang paling banyak disorot. Ulasan dari berbagai media menyebutkan bahwa film ini berhasil menjadi standar baru untuk genre film anak-keluarga di Indonesia .

Kelebihan utama yang disoroti antara lain akting alami Luisa Adreena sebagai Na Willa, kemampuan sutradara Ryan Adriandhy menangkap esensi novel asli, visual cerah yang mendukung imajinasi anak, serta penggunaan musik yang pas. Beberapa kritikus memberikan nilai 9/10 untuk film ini dan menyebutnya sebagai "pelukan hangat dari masa lalu yang siap memeluk siapa saja yang mau masuk ke dunianya" .

Reda Gaudiamo sebagai pengarang novel asli mengaku terharu saat pertama kali didekati untuk mengadaptasi karyanya menjadi film. Ia menyatakan bahwa kisah Na Willa berada di tangan yang tepat dan berharap film ini dapat dinikmati oleh pembaca kecil maupun besar, seperti halnya bukunya yang telah menemani banyak pembaca selama ini .

Lihat pula

Referensi

  1. CNN Indonesia. (2026, 18 Maret). Sinopsis Na Willa, Petualangan Ajaib Gadis Kecil Penuh Ingin Tahu.
  2. CNN Indonesia. (2025, 13 November). Kisah Gadis Kecil Na Willa Jadi Film, Digarap Kreator Jumbo.
  3. Jambian. (2026, 19 Maret). Sinopsis Na Willa, Kisah Gadis Kecil Na Willa dan Dunia Barunya.
  4. Mopic. (2026). NA WILLA.
  5. Parapuan. (2025, 13 November). Tim Film Jumbo Garap Live Action Na Willa, Eksplorasi Kisah Lokal Sarat Makna.
  6. Sudut Kantin. (2020, 3 Agustus). Catatan Lepas Setelah Membaca Na Willa.
  7. The Emma Press. (2019, 12 Maret). The Adventures Of Na Willa.
  8. Yoursay.id. (2026, 21 Maret). Ulasan Film Na Willa: Nostalgia Hangat yang Bikin Rindu Masa Kecil.