Saham
ADVERTISEMENT
Saham (dari bahasa Arab sahm; Belanda: aandeel) adalah bukti kepemilikan modal atau dana pada suatu perusahaan perseroan terbatas. Dalam pasar modal, saham didefinisikan sebagai surat berharga yang menandakan penyertaan modal seseorang atau badan usaha dalam suatu perusahaan, yang dengan kepemilikan tersebut memberikan hak atas bagian pendapatan (dividen) serta hak suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Sebagai salah satu instrumen investasi yang paling populer, saham menawarkan potensi keuntungan yang menarik, namun juga disertai dengan tingkat risiko yang bervariasi. Di Indonesia, perdagangan saham difasilitasi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Memasuki tahun 2026, pasar saham global dan domestik terus bergerak dinamis, dipengaruhi oleh berbagai faktor makroekonomi, geopolitik, serta perubahan perilaku investor.
Definisi dan Fungsi Saham
Secara fundamental, saham merepresentasikan klaim kepemilikan atas aset dan pendapatan perusahaan. Ketika seorang investor membeli saham, ia secara hukum menjadi bagian dari pemilik perusahaan tersebut, sebesar proporsi kepemilikan yang dipegangnya. Perusahaan yang menerbitkan saham disebut sebagai emiten, dan proses penawaran saham perdana kepada publik dikenal dengan istilah Initial Public Offering (IPO).
Bagi perusahaan, penerbitan saham merupakan salah satu cara untuk memperoleh modal dari publik guna mengembangkan bisnis tanpa menciptakan utang baru. Bagi investor, saham berfungsi sebagai sarana untuk mendapatkan imbal hasil melalui dua mekanisme utama. Pertama, capital gain, yaitu keuntungan yang diperoleh dari selisih harga jual yang lebih tinggi dibandingkan harga beli saham. Kedua, dividen, yaitu pembagian keuntungan perusahaan kepada para pemegang saham yang besarnya bergantung pada kinerja dan kebijakan dividen emiten.
Jenis-Jenis Saham
Dalam praktik pasar modal, saham tidak hanya hadir dalam satu bentuk. Terdapat setidaknya empat jenis saham utama yang memiliki karakteristik dan hak yang berbeda. Memahami perbedaan ini penting agar investor dapat menyesuaikan pilihan instrumen dengan profil risiko dan tujuan keuangan mereka.
Saham Biasa (Common Shares)
Saham biasa adalah jenis yang paling umum diperdagangkan di bursa. Pemegang saham biasa memiliki hak suara dalam RUPS, biasanya satu suara untuk setiap lembar saham yang dimiliki, sehingga mereka dapat turut serta dalam pengambilan keputusan strategis perusahaan seperti pemilihan dewan direksi. Dari sisi imbal hasil, saham biasa menawarkan potensi capital gain yang tinggi jika kinerja perusahaan meningkat, namun dividen yang dibagikan bersifat variabel dan tidak dijamin. Dalam hal likuidasi, pemegang saham biasa berada di posisi terakhir untuk mendapatkan klaim atas aset perusahaan setelah seluruh kreditur dan pemegang saham preferen dilunasi.
Saham Preferen (Preferred Shares)
Saham preferen sering disebut sebagai instrumen hybrid karena memiliki karakteristik gabungan antara saham dan obligasi. Berbeda dengan saham biasa, saham preferen umumnya tidak memberikan hak suara. Namun, keunggulannya terletak pada prioritas pembayaran dividen yang bersifat tetap. Perusahaan wajib membayar dividen kepada pemegang saham preferen terlebih dahulu sebelum membagikan dividen kepada pemegang saham biasa.
Dalam situasi likuidasi, pemegang saham preferen juga memiliki prioritas lebih tinggi dibanding pemegang saham biasa. Saham preferen sangat cocok bagi investor yang mengutamakan pendapatan stabil (pendapatan tetap) dan memiliki profil risiko konservatif. Beberapa saham preferen juga dilengkapi dengan fitur konversi, yang memungkinkan pemegangnya mengubah saham tersebut menjadi saham biasa dengan rasio tertentu pada waktu yang telah ditentukan.
Saham Konversi (Convertible Shares)
Saham konversi memberikan fleksibilitas kepada pemegangnya untuk mengubah kepemilikan menjadi sejumlah saham biasa sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan sejak awal penerbitan. Jenis saham ini menawarkan kombinasi antara pendapatan tetap (biasanya dalam bentuk kupon atau dividen) di awal masa kepemilikan, dengan potensi pertumbuhan jika harga saham biasa mengalami kenaikan signifikan. Jika harga saham biasa melonjak, investor dapat melakukan konversi untuk mendapatkan capital gain yang lebih besar.
Saham yang Dapat Ditebus (Redeemable Shares)
Saham yang dapat ditebus merupakan saham yang memiliki mekanisme buyback wajib atau opsional oleh perusahaan penerbit pada tanggal dan harga tertentu yang sudah ditentukan. Fitur ini memberikan kepastian jalur keluar (exit) bagi investor, sehingga mengurangi ketidakpastian likuiditas. Saham jenis ini biasanya diterbitkan dengan imbal hasil dividen tetap dan disukai oleh investor yang menginginkan struktur investasi yang lebih terprediksi.
Istilah Dasar dalam Perdagangan Saham
Memasuki dunia investasi saham memerlukan pemahaman terhadap berbagai terminologi teknis yang digunakan dalam transaksi sehari-hari. Pemahaman ini akan membantu investor dalam mengambil keputusan yang lebih terinformasi.
Dalam melakukan transaksi, investor memerlukan broker atau perusahaan sekuritas yang bertindak sebagai perantara. Ada dua jenis perintah transaksi utama: market order, yaitu perintah beli atau jual yang dieksekusi segera pada harga pasar saat itu, dan limit order, yaitu perintah beli atau jual yang hanya dieksekusi pada harga tertentu atau lebih baik.
Untuk mengukur kinerja saham, terdapat beberapa indikator penting. EPS (Earnings Per Share) atau laba per saham menunjukkan laba bersih perusahaan per lembar saham. P/E Ratio (Price to Earnings Ratio) adalah rasio yang membandingkan harga saham dengan EPS-nya, yang digunakan untuk menilai apakah suatu saham tergolong murah atau mahal. Sementara itu, beta adalah ukuran yang menunjukkan tingkat risiko atau volatilitas suatu saham terhadap pergerakan pasar secara keseluruhan.
Investor juga perlu memahami konsep likuiditas, yaitu kemudahan menjual saham tanpa mempengaruhi harga secara signifikan, serta volatilitas, yang mengacu pada tingkat fluktuasi harga saham dalam periode tertentu. Untuk mengelola risiko, strategi diversifikasi menjadi kunci penting, yaitu penyebaran investasi ke berbagai sektor atau instrumen agar tidak terkonsentrasi pada satu aset saja.
Langkah Strategis Memulai Investasi Saham
Bagi pemula, memulai investasi saham tidak dapat dilakukan secara instan. Terdapat tujuh langkah strategis yang dapat diikuti untuk membangun fondasi investasi yang kokoh, sebagaimana dirangkum dari panduan investasi tahun 2026.
Langkah pertama adalah menentukan tujuan investasi secara spesifik. Investor harus menetapkan target yang jelas dan terukur, misalnya mengumpulkan dana pensiun sebesar Rp500 juta dalam 20 tahun, bukan hanya sekadar “ingin untung”. Tujuan yang spesifik akan memudahkan pemilihan strategi dan instrumen yang tepat.
Langkah kedua adalah mengukur kapasitas dana investasi. Sebelum membeli saham, investor perlu melakukan audit keuangan pribadi. Prinsip utamanya adalah menggunakan “uang dingin”, yaitu dana yang tidak dibutuhkan untuk kebutuhan pokok atau darurat dalam waktu dekat. Dana darurat yang mencukupi harus tersedia sebelum mengalokasikan dana ke pasar saham.
Langkah ketiga adalah memahami profil risiko. Setiap investor memiliki ambang batas yang berbeda terhadap fluktuasi harga. Investor konservatif cenderung cocok dengan saham blue chip berkapitalisasi besar yang stabil, sementara investor agresif dapat mempertimbangkan saham pertumbuhan (growth stock) dengan potensi imbal hasil tinggi namun volatilitas signifikan.
Langkah keempat hingga keenam berkaitan dengan aspek teknis, yaitu memilih akun investasi, menyeleksi broker kredibel, dan melakukan pendanaan akun secara rutin. Broker yang dipilih harus memiliki reputasi baik, diawasi otoritas keuangan, serta dilengkapi fitur analisis yang memadai. Penerapan investasi rutin dengan metode Dollar Cost Averaging (DCA) disarankan untuk memitigasi risiko fluktuasi harga jangka pendek.
Langkah terakhir adalah memulai transaksi secara bertahap. Pemula sangat disarankan untuk menghindari pembelian dalam skala besar tanpa analisis yang memadai. Memulai dari nominal kecil sembari mempelajari perilaku pasar akan membentuk pengalaman dan kematangan strategi investasi seiring berjalannya waktu.
Dinamika Pasar Saham Terkini
Memasuki kuartal kedua tahun 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan pergerakan yang penuh tantangan. Sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, IHSG mengalami tekanan beruntun. Pada akhir Maret 2026, IHSG tercatat berada di kisaran 7.053, mengalami koreksi yang cukup dalam secara year-to-date (ytd).
Salah satu faktor utama yang mempengaruhi pergerakan pasar adalah ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada harga energi global. Eskalasi konflik yang mengganggu jalur distribusi energi seperti Selat Hormuz telah mendorong harga minyak dan komoditas energi lainnya tetap tinggi. Dalam kondisi seperti ini, terjadi dikotomi di pasar di mana saham-saham sektor energi dan komoditas cenderung menguat, sementara sektor perbankan dan konsumen justru tertekan.
Analis memproyeksikan bahwa sektor energi, batu bara, serta komoditas lainnya akan menjadi primadona pada periode April hingga Juni 2026. Saham-saham seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), serta PT Indika Energy Tbk (INDY) dinilai berpeluang outperform di tengah volatilitas pasar karena diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Di sisi lain, saham perbankan berkapitalisasi besar (big caps) seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) tetap dipandang sebagai pilihan defensif. Ketiga emiten ini memiliki fundamental yang stabil dan likuiditas tinggi, sehingga berpotensi menjadi pintu masuk aliran dana asing ketika sentimen pasar kembali ke mode risk-on.
Strategi Menghadapi Volatilitas
Menyikapi dinamika pasar yang fluktuatif, para ahli merekomendasikan beberapa strategi untuk tahun 2026. Diversifikasi aset secara seimbang menjadi fondasi utama, dengan menyebar investasi tidak hanya pada saham tetapi juga ke instrumen lain seperti reksa dana, obligasi, atau emas untuk melindungi portofolio dari guncangan di satu sektor tertentu.
Fokus pada aset dengan fundamental kuat juga menjadi kunci. Di tengah ketidakpastian, investor disarankan untuk memilih saham perusahaan dengan laporan keuangan sehat, prospek bisnis jangka panjang yang jelas, dan utang yang terkendali. Analisis fundamental yang cermat akan membantu mengidentifikasi emiten yang mampu bertahan dalam berbagai kondisi pasar.
Manajemen risiko harus diterapkan secara disiplin dengan menentukan target keuntungan dan batas kerugian (cut loss) yang dapat diterima sejak awal. Evaluasi portofolio secara berkala setiap 6 hingga 12 bulan juga diperlukan untuk melakukan rebalancing, yaitu menyesuaikan kembali proporsi alokasi aset agar tetap sesuai dengan tujuan investasi awal. Rebalancing dapat dilakukan dengan menjual sebagian aset yang telah naik berlebihan dan menambah aset yang nilainya terkoreksi.
Lihat Pula
Referensi
- Mirae Asset Sekuritas. "50 Istilah Dalam Saham yang Wajib Investor Tahu". miraeasset.co.id. 2026-01-13
- Kontan. "Panduan Investasi Saham 2026: 7 Langkah Strategis Memulai bagi Pemula". kontan.co.id. 2026-02-05
- XTB. "Saham Biasa vs Saham Preferen: Mana yang Membangun Kekuatan Finansial?". xtb.com. 2026-02-16
- XTB. "Apa Itu 4 Jenis Saham yang Berbeda?". xtb.com. 2026-02-07
- Katadata. "Meneropong Sektor Potensial IHSG di Kuartal II 2026, Ada Energi hingga Perbankan". katadata.co.id. 2026-03-30
- Katadata. "IHSG Sesi I Turun ke 7.053, Indeks Bergengsi LQ45 HEAL, AADI dan BREN Longsor". katadata.co.id. 2026-03-30
- Kompas. "IHSG “Dihantui” Perang, Berikut Saham yang Direkomendasikan untuk Trading Selasa". kompas.com. 2026-03-30
- Ajaib. "7 Strategi Investasi Untuk 2026!". ajaib.co.id. 2025-12-25