Manga

Manga (漫画) adalah istilah yang merujuk pada komik atau narasi bergambar yang berasal dari Jepang. Kata ini secara harfiah dapat diartikan sebagai "gambar spontan" atau "gambar yang mengalir bebas" . Di Jepang, istilah manga digunakan untuk menyebut semua jenis komik, namun di ranah internasional, kata ini secara spesifik diidentikkan dengan komik yang diproduksi di Jepang dengan ciri khas gaya visual dan penceritaan yang unik .

Definisi dan Terminologi

Definisi manga terus berkembang seiring dengan penyebaran globalnya. Meskipun sering disederhanakan sebagai "komik Jepang", definisi ini memiliki berbagai lapisan kompleksitas. Secara etimologis, istilah ini dipopulerkan oleh seniman ukiyo-e ternama, Katsushika Hokusai, pada abad ke-19 untuk serangkaian sketsanya . Namun, penggunaan karakter man (漫) yang berarti "spontan" atau "terburu-buru" dan ga (画) yang berarti "gambar" telah tercatat dalam karya-karya jauh lebih awal, seperti Manga zuihitsu karya Suzuki Kankei pada tahun 1771 .

Perdebatan akademis mengenai definisi manga muncul seiring dengan masuknya istilah ini ke dalam kamus berbagai bahasa. Pada tahun 2012, Real Academia Española mendefinisikan manga secara keliru dan bias, yang kemudian mendapat koreksi dari para pakar karena dianggap tidak merepresentasikan medium ini secara akurat . Masalah serupa muncul dalam definisi di berbagai bahasa, yang seringkali mengandung ketidaktepatan dan kontradiksi .

Secara garis besar, terdapat tiga pendekatan utama dalam mendefinisikan manga : Pertama, manga didefinisikan berdasarkan gaya gambar dan penceritaannya yang mengikuti bahasa visual khas Jepang. Kedua, definisi berdasarkan sistem penerbitan di Jepang, yang melibatkan majalah-majalah mingguan atau bulanan yang ditargetkan pada demografi pembaca tertentu. Ketiga, manga didefinisikan secara sederhana sebagai komik yang dibuat di Jepang. Masing-masing pendekatan ini memiliki kelemahan; definisi gaya seringkali terlalu sempit dan tidak mencakup keragaman visual manga, definisi penerbitan menjadi kurang relevan di era digital, sementara definisi berdasarkan asal negara mengabaikan karya seniman non-Jepang yang mengadopsi gaya manga .

Ciri Khas Visual dan Naratif

Manga memiliki karakteristik visual yang khas dan membedakannya dari komik jenis lain, meskipun tidak semua manga menerapkan seluruh elemen ini secara ketat . Salah satu ciri yang paling dikenal adalah penggambaran mata karakter yang besar dan ekspresif, terutama pada karakter perempuan. Mata wanita biasanya digambarkan lebih besar dibandingkan mata pria, dengan detail seperti pupil transparan, sorotan, atau pantulan kecil di sudut mata yang memberikan kesan hidup. Sebaliknya, karakter yang telah meninggal sering digambarkan dengan mata yang gelap .

Ciri khas lainnya adalah proporsi tubuh yang tidak selalu realistis. Karakter manga sering memiliki hidung dan mulut yang kecil, kepala yang lebih besar dari proporsi normal, serta rambut yang digambarkan runcing dan tajam. Manga juga menggunakan elemen visual khas seperti gelembung dialog yang ekspresif, garis kecepatan (speed lines) untuk menunjukkan gerakan, kilas balik mini (mini flashback), latar belakang abstrak, dan simbol-simbol tertentu yang telah menjadi konvensi dalam medium ini .

Secara tradisional, manga dicetak dalam hitam putih, meskipun sampul dan beberapa halaman khusus dapat berwarna. Hal ini menjadi salah satu ciri khas yang membedakannya dari komik Barat yang umumnya berwarna penuh . Pewarnaan hitam putih ini menjadi daya tarik tersendiri bagi kolektor dan penggemar yang menghargai nuansa monokrom . Namun, perkembangan teknologi telah memungkinkan manga digital hadir dengan pewarnaan penuh.

Dari segi narasi, manga memiliki struktur yang khas. Panel-panel dibaca dari kanan ke kiri, sesuai dengan arah baca tradisional Jepang, meskipun beberapa penerbit di luar Jepang pada awalnya membalik halaman untuk menyesuaikan dengan kebiasaan pembaca lokal . Sejak tahun 2000an, sebagian besar penerbit di Indonesia mulai mempertahankan format asli ini untuk menjaga integritas karya .

Sejarah dan Perkembangan

Asal-Usul dan Perintisan

Akar sejarah manga dapat ditelusuri hingga berabad-abad lalu. Pada zaman Edo (1603-1868), berkembang berbagai bentuk ilustrasi seperti Otsu-e (lukisan cepat dan murah), ukiyo-e, shunga, dan tobae yang dianggap sebagai cikal bakal manga awal . Istilah manga sendiri diperkenalkan oleh Katsushika Hokusai melalui serial sketsanya yang terdiri dari 15 volume, terbit mulai tahun 1814 .

Perkembangan signifikan terjadi setelah Jepang membuka diri terhadap pengaruh luar pada pertengahan abad ke-19. Seniman Jepang mulai mengadaptasi format komik multi-strip dan teknik sinematik dari film Amerika . Namun, manga modern seperti yang dikenal saat ini tidak muncul hingga setelah Perang Dunia II. Tokoh yang paling berpengaruh dalam revolusi ini adalah Osamu Tezuka (1928-1989), yang dijuluki "Dewa Manga" (The God of Manga). Tezuka mengubah konsep manga dari bacaan anak-anak menjadi medium yang dapat dinikmati semua usia dengan mengangkat tema-tema dewasa seperti kematian dan kesedihan . Karyanya yang ikonik, Astro Boy (1952), tidak hanya sukses secara komersial tetapi juga menetapkan standar baru dalam visual dan penceritaan manga .

Sistem Penerbitan dan Genre

Pada tahun 1959, dua majalah mingguan utama untuk pembaca pria, Shonen Magazine dan Shonen Sunday, mulai diterbitkan . Ini menandai dimulainya sistem penerbitan manga yang terstruktur, di mana bab-bab manga diterbitkan secara serial dalam majalah tebal (200-850 halaman) sebelum dikumpulkan dalam volume buku yang disebut tankobon . Sistem ini memungkinkan penerbit untuk "membanjiri pasar dengan harga murah", membuat manga menjadi sangat mudah diakses oleh masyarakat Jepang .

Keberagaman genre manga mulai berkembang pesat. Manga dikategorikan berdasarkan target demografi pembaca: kodomo (anak-anak), shonen (remaja laki-laki), shojo (remaja perempuan), seinen (dewasa laki-laki), dan josei atau redikomi (dewasa perempuan) . Masing-masing kategori ini memiliki konvensi penceritaan dan gaya visual yang berbeda. Popularitas manga yang terus meningkat mendorong lahirnya berbagai genre cerita, mulai dari aksi, fantasi, romansa, olahraga, hingga misteri dan sejarah .

Pengaruh dan Perkembangan di Indonesia

Masuk dan Berkembangnya Manga

Manga mulai memasuki Indonesia pada era 1990-an dengan judul-judul seperti Candy Candy, Doraemon, Dragon Ball, dan Kungfu Boy . Elex Media Komputindo menjadi pelopor penerbitan manga di Indonesia sejak tahun 1991 . Ide penerbitan ini berawal dari kunjungan Jakob Oetama, salah satu pendiri Kompas, ke Jepang pada akhir 1980-an yang menunjukkan ketertarikan terhadap manga dan melihat potensi pasarnya di Indonesia .

Kehadiran manga memberikan dampak signifikan terhadap industri komik dan budaya pop di Indonesia. Manga dengan cepat mendominasi pasar komik nasional dan mempengaruhi gaya menggambar komikus-komikus muda Indonesia . Banyak komikus lokal mulai mengadopsi gaya manga dalam karya mereka, bahkan untuk tema-tema yang berlatarkan budaya Indonesia .

Adaptasi dan Transformasi

Indonesia sendiri memiliki tradisi narasi visual yang panjang, seperti relief pada candi-candi yang menceritakan kisah epik melalui gambar. Relief di Candi Borobudur, misalnya, menggunakan sistem penggambaran "Ruang Waktu Datar" (RWD) yang mirip dengan panel komik modern, di mana adegan-adegan berurutan digambarkan tanpa perspektif dan tokoh penting digambarkan lebih besar . Tradisi ini menunjukkan bahwa narasi visual bukanlah hal baru dalam khazanah kebudayaan Indonesia .

Pada awalnya, manga yang diterbitkan di Indonesia mengalami proses pembalikan halaman (flipping) untuk menyesuaikan dengan kebiasaan membaca dari kiri ke kanan. Namun, hal ini menyebabkan masalah pada manga bergenre detektif seperti Detektif Conan dan Kindaichi, karena alur penyelesaian kasus yang bergantung pada gambar menjadi kacau . Sejak sekitar tahun 2000, penerbit mulai mempertahankan format asli manga yang dibaca dari kanan ke kiri, dimulai dengan judul Rurouni Kenshin .

Era Digital dan Webtoon

Perkembangan teknologi digital telah mengubah lanskap konsumsi manga di Indonesia dan dunia. Komik digital, terutama yang diunggah melalui platform seperti Webtoon, menawarkan akses yang lebih mudah dan interaktif . Fenomena ini membuka peluang bagi kreator lokal untuk menjangkau audiens yang lebih luas tanpa terbatas pada penerbitan cetak .

Salah satu contoh sukses adaptasi ke format digital adalah Dedes, sebuah webtoon yang mengangkat cerita sejarah Ken Dedes, permaisuri pertama Kerajaan Singasari. Dengan mengemas ulang sejarah dalam genre fantasi isekai, Dedes berhasil menarik jutaan pembaca dan bahkan diterjemahkan ke dalam bahasa Thailand . Fenomena ini menunjukkan bagaimana manga dan format turunannya telah menjadi medium yang adaptif, mampu menggabungkan elemen tradisional dengan inovasi digital .

Perbedaan dengan Komik Asia Lainnya

Masyarakat Indonesia dan internasional sering membedakan manga dari dua jenis komik Asia lainnya: manhwa dan manhua. Ketiga istilah ini memiliki akar etimologis yang sama dari kata manhua dalam bahasa Mandarin yang berarti "gambar dadakan" . Perbedaan utamanya terletak pada negara asal: manga berasal dari Jepang, manhwa dari Korea Selatan, dan manhua dari Tiongkok .

Perbedaan lainnya mencakup gaya visual, format, dan warna. Manga tradisional umumnya dicetak hitam putih dengan gaya visual khas mata besar dan proporsi tubuh yang distorsi, sedangkan manhwa dan manhua digital hadir dengan pewarnaan penuh . Manga dan manhua dibaca dari kanan ke kiri, sementara manhwa mengikuti arah baca kiri ke kanan seperti komik Barat . Setiap negara juga memiliki sebutan khusus untuk pembuatnya: mangaka untuk pembuat manga, manhwaga untuk pembuat manhwa, dan manhuajia untuk pembuat manhua .

Dampak Budaya

Manga telah menjadi elemen penting dalam budaya populer global, termasuk di Indonesia. Popularitasnya melahirkan berbagai komunitas penggemar yang rutin mengadakan acara seperti cosplay, diskusi, dan nonton bareng anime . Manga juga mendorong munculnya generasi komikus lokal yang terinspirasi oleh gaya dan teknik penceritaan Jepang . Dampaknya melampaui hiburan semata, merangsang kreativitas dan inovasi di kalangan generasi muda, serta berpotensi untuk terus mendorong pertumbuhan industri komik Indonesia .

Referensi

Wikipedia bahasa Indonesia. "Manga". Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.  

Library of Congress. "Manga (Comic books, strips, etc.)". Library of Congress Authorities.  

Wikipedia bahasa Indonesia. "ProyekWiki Anime dan Manga/Referensi". Wikipedia bahasa Indonesia.  

Mendeley. "Pengaruh Konsumsi Manga terhadap Minat Membaca Generasi Z di Indonesia". Khatulistiwa: Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora. 

Good News From Indonesia. "Tak Hanya dari Jepang, ini 9 Manga dan Anime Asli Indonesia!".  

EJournal UNISBA. "Geliat Komik Indonesia" oleh Hanny Hafiar dan Oji Kurniadi. Mediator. 

Wikipedia bahasa Indonesia. "Budaya masyarakat Jepang". Wikipedia bahasa Indonesia. 

Wikipedia bahasa Indonesia. "Portal:Anime dan manga/Intro". Wikipedia bahasa Indonesia. 

百度百科. "日本漫画". 百度百科. 

[Baca selengkapnya →]

The Shape of Voice

The Shape of Voice (Jepang: 聲の形, Hepburn: Koe no Katachi, terj. har. "Bentuk dari Sebuah Suara"), juga dikenal dengan judul internasional A Silent Voice, adalah sebuah seri manga Jepang yang ditulis dan diilustrasikan oleh Yoshitoki Ōima. Karya ini pertama kali terbit sebagai cerita one-shot pada tahun 2011 sebelum kemudian diserialisasi di majalah Weekly Shōnen Magazine dari Agustus 2013 hingga November 2014. Kesuksesan manga ini kemudian melahirkan sebuah film animasi teatrikal yang diproduksi oleh Kyoto Animation dan dirilis pada tahun 2016. Di Indonesia, manga ini diterbitkan oleh penerbit m&c! dengan judul The Shape of Voice, sementara filmnya lebih dikenal dengan judul internasionalnya, A Silent Voice .

Sinopsis

Cerita berpusat pada Shoya Ishida, seorang siswa nakal di sekolah dasar yang memimpin tindakan perundungan terhadap teman sekelasnya yang baru pindah, Shoko Nishimiya, yang memiliki gangguan pendengaran tuli. Perundungan yang dilakukan Shoya, mulai dari ejekan hingga tindakan yang lebih kasar seperti merusak alat bantu dengar Shoko, berujung pada insiden yang menyebabkan Shoko pindah sekolah. Setelah kepergian Shoko, seluruh teman sekelasnya, termasuk mereka yang sebelumnya turut serta dalam perundungan, menjadikan Shoya sebagai kambing hitam dan ia pun menjadi korban perundungan baru. Pengalaman ini membuat Shoya menjadi pribadi yang tertutup dan diliputi penyesalan yang mendalam .

Bertahun-tahun kemudian, saat duduk di bangku SMA, Shoya yang sudah berubah dan tengah mempertimbangkan untuk mengakhiri hidupnya, memutuskan untuk menemui Shoko lagi. Ia ingin meminta maaf dan mencoba memperbaiki kesalahan masa lalunya. Pertemuan kembali ini menjadi awal dari perjalanan emosional yang kompleks bagi keduanya. Shoya berusaha menjalin kembali hubungan persahabatan dengan Shoko dan juga dengan teman-teman masa kecil mereka, seperti Tomohiro Nagatsuka dan Yuzuru Nishimiya, adik perempuan Shoko. Dalam prosesnya, mereka dipertemukan kembali dengan Naoka Ueno dan Miki Kawai, yang menyimpan perasaan dan konflik mereka sendiri terkait peristiwa masa lalu. Manga dan film ini mengikuti perjuangan Shoya untuk menebus kesalahan dan belajar menerima dirinya sendiri, sementara Shoko bergulat dengan perasaan bersalah dan rendah diri yang telah lama ia pendam, yang pada akhirnya membawa mereka pada sebuah klimaks yang menegangkan dan penuh makna .

Manga

Publikasi

The Shape of Voice berawal dari sebuah cerita pendek (one-shot) yang diterbitkan di majalah Bessatsu Shōnen Magazine edisi Februari 2011. Karena mendapatkan sambutan positif, Yoshitoki Ōima kemudian mengembangkannya menjadi seri penuh yang mulai dimuat di Weekly Shōnen Magazine pada 7 Agustus 2013. Seri ini berakhir pada 19 November 2014 dengan total tujuh volume tankōbon yang diterbitkan oleh Kodansha di Jepang . Sebelum serialisasi dimulai, publikasi ini telah ditinjau oleh Federasi Tuli Jepang (Japanese Federation of the Deaf) yang memberikan dukungannya karena penggambaran isu ketulian yang dianggap cermat . Di Indonesia, hak lisensi untuk menerbitkan manga ini dipegang oleh penerbit m&c! . Manga ini juga telah diterbitkan dalam berbagai bahasa lain, termasuk Inggris oleh Kodansha USA .

Penghargaan dan Penerimaan

Manga The Shape of Voice meraih kesuksesan kritis yang besar. Seri ini menduduki peringkat pertama dalam daftar Kono Manga ga Sugoi! 2015 untuk kategori pembaca pria . Pada tahun yang sama, karya ini dinominasikan untuk Penghargaan Budaya Tezuka Osamu ke-19 dan berhasil memenangkan Penghargaan Pencipta Baru (New Creator Prize) . Selain itu, manga ini juga masuk nominasi dalam ajang Manga Taishō ke-8 dan Penghargaan Manga Kodansha ke-38 untuk kategori shōnen terbaik . Secara internasional, seri ini masuk dalam daftar Top Sepuluh Great Graphic Novels for Teens dari Young Adult Library Services Association pada tahun 2016 dan 2017 . Para kritikus memuji kedalaman karakter, penanganan tema-tema berat seperti perundungan, disabilitas, dan kesehatan mental, serta perjalanan emosional yang digambarkan dengan sangat menyentuh .

Film Anime

Produksi dan Rilis

Rencana adaptasi anime dari manga ini diumumkan pada November 2014, bertepatan dengan perilisan bab terakhir . Pada Oktober 2015, diumumkan bahwa Kyoto Animation akan memproduksi film tersebut dengan sutradara Naoko Yamada yang dikenal lewat karya-karyanya seperti K-On! dan Tamako Market . Naskah film ditulis oleh Reiko Yoshida, dengan desain karakter oleh Futoshi Nishiya dan musik yang digubah oleh Kensuke Ushio . Pengisi suara utama untuk Shoya Ishida adalah Miyu Irino, sementara Saori Hayami mengisi suara Shoko Nishimiya . Film ini dirilis di bioskop Jepang pada tanggal 17 September 2016 dan didistribusikan oleh Shochiku . Film ini juga dirilis secara internasional, termasuk di Amerika Serikat pada Oktober 2017 .

Gaya Animasi dan Musik

Salah satu aspek yang paling dipuji dari film ini adalah kualitas animasinya yang luar biasa, yang menjadi ciri khas Kyoto Animation. Dengan sistem kerja animator sebagai karyawan tetap, studio ini mampu menghasilkan animasi yang halus dan detail, terutama dalam mengekspresikan gerakan tubuh, isyarat tangan, dan bahasa tubuh yang halus dari para karakternya. Hal ini sangat penting karena film ini banyak mengandalkan komunikasi non-verbal untuk menyampaikan emosi dan narasi, terutama dalam penggambaran interaksi dengan Shoko yang tuli . Sutradara Naoko Yamada memanfaatkan kemampuan ini untuk menyampaikan nuansa psikologis karakter secara visual, misalnya melalui perubahan gaya rambut atau gerakan refleks tangan, yang memperkuat dampak emosional cerita . Musik latar yang diciptakan oleh Kensuke Ushio juga mendapat pujian karena mampu memperkuat suasana dan kedalaman emosi dari setiap adegan . Lagu tema utama film ini berjudul "Koi wo Shita no wa" yang dibawakan oleh penyanyi aiko .

Penerimaan dan Penghargaan

Film A Silent Voice mendapatkan sambutan yang sangat positif dari para kritikus dan penonton. Di situs agregator ulasan Rotten Tomatoes, film ini meraih tingkat persetujuan sebesar 94% . Pujian ditujukan pada arahan sutradara, kualitas animasi, pengisian suara, skor musik, dan penggambaran kompleksitas psikologis karakternya . Sutradara kondang Makoto Shinkai, yang menyutradarai film Your Name., menyebut A Silent Voice sebagai sebuah "karya yang fantastis" dan "produksi yang halus dan megah" .

Secara komersial, film ini juga sukses. Saat dirilis, film ini menempati posisi kedua di box office Jepang dan meraup total lebih dari ¥2,3 miliar (sekitar US$30,8 juta) di seluruh dunia . Film ini memenangkan beberapa penghargaan, termasuk Best Animation Feature Film dari Japanese Movie Critics Awards dan Anime of the Year (kategori film) di Tokyo Anime Award Festival . Film ini juga menjadi nominasi untuk Animation of the Year di Japan Academy Film Prize .

Tema dan Dampak

The Shape of Voice dikenal karena eksplorasinya yang mendalam dan sensitif terhadap berbagai tema berat. Tema sentralnya adalah perundungan dan dampak jangka panjangnya, baik bagi korban maupun pelaku. Cerita ini secara jujur menggambarkan isolasi sosial, kecemasan, depresi, dan keinginan untuk bunuh diri . Karya ini juga mengeksplorasi tema pengampunan, penebusan dosa, dan kesulitan dalam berkomunikasi serta memahami orang lain . Penggambaran ketulian sebagai sebuah kondisi yang mempengaruhi kehidupan karakter secara nyata, dan bukan hanya sebagai alat plot, juga dianggap sebagai salah satu kekuatan utama cerita . Cerita ini mengajak penonton dan pembaca untuk merenungkan makna persahabatan sejati, penerimaan diri, dan pentingnya mendengarkan "bentuk suara" dari orang-orang di sekitar mereka .

Referensi

Wikipedia bahasa Indonesia, "The Shape of Voice"

Wikipedia bahasa Inggris, "A Silent Voice (film)"

Wikipedia bahasa Inggris, "A Silent Voice (manga)"

The Verge, "A Silent Voice shows why Kyoto Animation is one of the top animation studios"

MyAnimeList, "Koe no Katachi - gust0717's Review"

Wiki Anime, "Koe no Katachi"

Toons Mag, "A Silent Voice (film)"

KAORI Nusantara, "Aoi Yuuki dan Saori Hayami ramaikan Koe no Katachi"

Annecy Festival, "A Silent Voice - 2017 Programme"

The StoryGraph, "The Shape of Voice vol. 1 - Review by songwind"

Anime News Network, "Cast, Staff Discuss A Silent Voice Anime Film in Making-of Video"

MyAnimeList, "Koe no Katachi - Excel44M's Review"

Pembrita Bogor, "4 Rekomendasi Film Anime Romantis..."

Cartoon Brew, "'A Silent Voice' Set For U.S. Release In October"

KAORI Nusantara, "Tak Sempat Nonton Anime Koe no Katachi? Nantikan Saja Blu-raynya"

TEGASIAN, "A Silent Voice: Menjelajahi Dampak Perundungan dan Kekuatan Memaafkan"

[Baca selengkapnya →]